Cari Blog Ini

Sabtu, 06 Agustus 2011

Bekerja Penuh Kesungguhan dan Keikhlasan Tak Mengenal Kerugian

Cara kita memandang sesuatu, menentukan sikap kita terhadap sesuatu itu, termasuk bagaimana kita melakukan segala sesuatu dalam hidup kita. Demikian pula dalam bekerja, cara pandang kita terhadap pekerjaan atau kerja itu sendiri, kemudian melahirkan karakter, motivasi, dan bagaimana kita menyikapi serta melakukan pekerjaan tersebut, yang lebih umum dikenal sebagai etos kerja.
Dalam Islam, bekerja tidak semata-mata dikaitkan dengan atau ditujukan untuk mencari rezeki, melainkan juga dipandang sebagai cara untuk beribadah kepada Allah.  Segala usaha yang kita lakukan, seluruh manfaat yang kita hasilkan, jika diniatkan karena Allah, adalah bernilai ibadah. Karenanya, semua kegiatan kita, baik yang menghasilkan uang maupun tidak, selama memiliki nilai tambah bagi diri dan sekitar, termasuk dalam kategori bekerja dan beramal shalih. Dan, karena ditujukan untuk mencari ridha Allah, maka diharapkan manusia akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus memberikan yang terbaik, di luar balasan materi atau non-materi yang didapatkannya dari manusia lain.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (QS. An-Najm: 39-42).
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyirah: 7-8).
Allah swt. adalah sebaik-baik pemberi balasan. Tidak akan sia-sia setiap kebaikan yang kita lakukan. Manusia sebaliknya, ia sering lupa, pengetahuannya tak sempurna, keputusannya tidak selalu adil atau bijaksana. Maka, jika hanya mengharapkan balasan darinya, kita lebih mungkin kecewa. Kalau kita bekerja hanya berdasarkan imbalan yang kita terima atau pengawasan dari manusia semata, tidak akan maksimal kerja kita. Semua jadi terasa berat dan hampa, sekedar rutinitas untuk melewati jam kerja sampai akhir bulan tiba beserta gaji kita.
Lain halnya, bila ada nilai yang kita percaya di dalamnya. Pandangan bahwa bekerja menyangkut kehormatan dan harga diri seseorang, telah membuat bangsa Jepang melakukan yang terbaik dalam pekerjaan mereka sampai menjadi salah satu bangsa paling produktif di dunia.  Kecintaan pada pekerjaan atau keberadaan nilai dan makna yang sesuai dengan nurani, yang dirasakan ketika melakukan pekerjaan tersebut juga menjadi motivasi bagi banyak orang dalam bekerja. Nilai-nilai Islam, bila benar-benar kita hayati dan yakini, seharusnya dapat menjadi dasar bagi seorang muslim untuk menjadi orang yang produktif dan bahagia dalam melakukan pekerjaannya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesunguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.”(HR Dailami).
Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT mencela sikap lemah dan tidak bersungguh-sungguh. Kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap ‘cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung.’” (HR. Abu Dawud).
”Berpagi-pagilah dalam mencari rezeki dan kebutuhan, karena pagi hari itu penuh dengan berkah dan keherhasilan.” (HR. Thabrani dan Barra’).
”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari).
Tentu kita tetap harus menuntut hak kita dalam bekerja. Jangan sampai kita diperlakukan tidak adil atau merasa teraniaya. Namun, jangan biarkan hal itu menodai keikhlasan kita. Percayalah, bila kita melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh, maka kebaikan pula yang kita dapatkan. Cepat atau lambat semua usaha kita akan membuahkan hasil yang menggembirakan.
Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (QS. Thaha: 112). [aca]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar